Baby Hello Kitty

Selasa, 09 Oktober 2012

Elang dari Surga


Hari masih panas dan terik matahari tambah menyengat . Lelaki kurus bermata cerah itu masih tetap memandangku . Pandangan aneh seakan ia mengenal diriku lalu ia tersenyum . setelah tersenyum dengan manis ia memberiku sebuah amlop kecil berwarna biru dan ia berkata “matahariku akan terbit di ufuk tempatmu berdiri . Kita pernah bertemu sekilas dan tumbuh seikat bunga untukku mengenalmu lebih dekat . Hai kamu anak kelas  11 A 1  itu kan? Salam kenal” . Belum sempat kujawab dia pergi ke tengah kerumunan pejalan kaki dan kemudian menghilang . Padahal belum sempat kubalas bahkan dengan senyum . Anehnya ia “Aduh aku jadi telat” aku bergegas berjalan menuju sekolah sepanjang perjalanan . Aku bertemu dengan banyak wajah baru anak-anak kelas satu SMA yang baru mendaftar  . Banyak yang mengatakan hai padaku meskipun aku dengan sangat buru-buru membalasnya “Hai Vinsha selamat pagi” sahut Rooby temanku “Hai sorry aku buru-buru nih” . Aku terus berlari menyusuri koridor ruang kelas menuju ruang rapat . Ketika langsung kubuka pintu ruang . Aku nyaris menabrak meja . Pipiku memerah karena penanggung jawab kegiatan MOPD telah tiba . Sambil menarik kursi dan duduk sambil menenangkan diri . “Ehm, saya memohon maaf atas keterlembatan saya untuk hadir dalam rapat ini , kebetulan tadi saya mendapat masalah kecil dan sedikit merepotkan . Nah saya disini dan silahkan memulai rapat kegiatan kita.” “Huh” tambahku lelah .


“Adalah komitmen anda  sebagai seoarang ketua saudari Vinsha, saya harap tidak akan lagi saya lihat keterlambatan lagi” penanggung jawab bermuka tirus dan berwajah angkuh itu berkata dengan dinginnya dan aku hanya bisa menangguk dan tersenyum dan berkata dalam hatiku “semoga saja” . Namun sepanjang kegiatan rapat berlangsung mataku tak tertuju pada layar dimana masing-masing koordinator seksi kegiatan menampilkan laporan mereka . Aku hanya tertuju pada jendela luar dimana kulihat matahari terik menyengat para pejalan kaki di jalan raya . Dan kupingku hanya mendengar kata-kata seoarang lelaki aneh yang kujumpai . “Matahari akan terbit di ufuk tempatmu berdiri. Kita pernah tumbuh sekilas dan tumbuh seikat bunga untukku mengenalmu lebih dekat” . katakata yang indah dan sangat sulit ku mengerti . Tak pernah lepas sedikitpun aku memikirkannya . Seorang yang aneh yang menarik perhatianku jauh lebih dari yang  kusadari pada akhirnya . Panasnya hari membuat hatiku menjadi jauh lebih lelah “Aneh biasanya tidak panas seperti kenapa ya dengan matahari? Apakah ia terlalu bersemangat menyinari bumi?” seketika itu juga bayangan seorang aneh muncul dan menghilang , meskipun sekilas tapi sangat jelas raut wajah dan senyumnya seakan meneduhkan hatiku ketika mengingatnya “eh kenapa kau senyum-senyum sendiri? Wah kasmarankah?hahahahaha” sahut Robby . Oh iya Robby adalah temanku, sebenarnya kami berteman sejak kami kecil .Robby, ia lebih dari seorang teman . Ia seorang sahabat terbaik untukku . Kulitnya putih dan ia berambut hitam lebat dengan bentuk mata sipit dan muka bulat yang sangat menyenangkan . Walaupun begitu dia sangat menyebalkan dan merepotkan . Meskipun lebih tua dariku terkadang dia seperti anak kecil yang jatuh dari tangga dan harus di manjakan . Merepotkan sekali. Tapi itu yang membuatku selalu tak bisa membencinya, sebesar apapun kesalahannya aku selalu tau dia melakukan yang terbaik meskipun caranya salah . Ketika datang kedewasaannya saat aku sedang terpuruk dalam kesedihan, dia pasti selalu bisa membuat aku tenang . Sebagai sahabat dialah pertama kali datang memelukku ketika ku menangis sendiri, dialah yang pertama mengangkatku ketika aku sedang terpuruk dalam banyak masalah, dia sangat berharga untukku . Tak ada yang bisa menyayangiku lebih dari dia kecuali orang tuaku mungkin . “Loh masih melamunkah? Hah bodoh yang benar saja” katanya dengan tampang malas dan tak bersalah . “apa kau bilang?aku engga bodoh tau” teriakku kesal “ehm enak saja kalau bicara mukamu tuh yang bodoh” tambahku . “justru itu aku jadi makin bodoh dekatmu . sudahlah kau pasti haus kan?” dia menaruh minuman soda dingin di tanganku dan membuka minumannya sendiri . Aku tersenyum melihatnya lalu tiba-tiba ia membuyarkan pikiranku dengan berkata “heh mau minum tidak?jangan diliatin aja dong!!soda itu tak akan menghampirimu kalau bukan kamu sendiri yang meminumnya”,
 “ Ih cerewet banget sih dasar jelek. Huh” celaku                                
“memang begitu”
“kok kamu nyebelin banget sih?”
“abisnya kamu ngelamun terus” dia bekata manja dan langsung merangkul bahuku
“sudah lama tak ke tempat itu? Maukah?” Tanyanya sambil tersenyum menggoda
“waaaah .. tentu saja” aku menanggap dengan sangat gembira .
Entah apa yang ada pada dirinya yang membuatku begitu bahagia . Meskipun menyusahkan tapi ialah yang selalu bersamaku kemanapun aku pergi .Kemanapun melangkah selalu ada langkah dan deap kaki seorang sahabat sambil meyerukan “hai tunggu” yang selalu kurindukan . Robbylah slalu mengemasi tiap haiku denn berbagai pelajaran yang berkesan dan indah . Dia lebih berharga dari sebuir utiara kerang terindah dalam kehidupanku . “karna ia begitu berarti bagiku” aku bergumam sendirian sambil melihat wajahnya tersenyum manis dan lugu .
“eh kamu bicara apa barusan?” tanyanya heran .
“ah tidak.... hehehe” aku hanya salah tingkah dan malu sendiri untungnya sinar matahari menyengat, setidaknya aku punya alibi untuk berbohong jika aku malu .
“huh kamu aneh” celanya
“biarin.. hahahahahagelak tawaku keluar tiap memandang mukanya yang konyol . Setiap hari tak pernah lepas dari genggaman lengan sahabatku ini . Setiap detail berbagai masalah yang ada diantara kehidupanku selalu ia perhatikan, membuatku sangat sulit sekali menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya  pada sosok gelap dari sisiku yang penyendiri . mengubah berjuta ekspresi kehilangan menjadi raut sendu . Selangkah ku pijak sedikit demi sedikit dengan perasaan pahit atas keadaan keluarga yang tak aku impikan di bandingkan kasih sayang sahabatku . Jauh lebih dari keluargaku yang egois, berlebihan, dan tak pernah mengertiku . Robby selalu tahu apa yang ia harus lakukan dan tidak ia lakukan padaku . Dialah yang satu-satuya menyadari sifatku .Taman bernuansa eropa tak mengalihkanku dari kesedihan karena sering ku telan pahit ktidak mengertian orang tuaku aku di cap sebagai anak yang tak tau diuntung, tak bisa di kasihani . Apa yang kulakukan di mata mereka selalu salah . Teringat tentang semuanya saat kami berdua duduk di bangku taman dengan lampu lentera zaman dahulu menemani aku hanya bisa tertunduk .
“kamu kenapa kawan?” itu yang slalu ia lakukan saat ku bersedih
“kenapa semua yang aku lakukan salah ya?” aku hanya menoba menahan air mata tapi tak mampu
“secepat itukah aku menyimpulkan mereka . Aku benar-benar bingung harus bagaimana lagi .. begini salah... begitu salah ... apa yang haus kulakukan” seketika aku hanya bisa mnerit melepas semuanya . Menjerit pada rerumputan hijau yang mulai menguning dsn melambai di tiup angin dngan tenang .
“adakah yang bisa mendengar jeritanku saat aku menangis dalam hatiku Rob? Adakah dari keluargaku yang utuh mengerti sosokku yang ssungguhnya . sebrapa jauh aku tertutup diantara mereka?”
“sesungguhnya Vinsha hanya kaulah yang satu-satunya mengerti keadaan orangtuamu dan keluargamu. Jadi harusnya kamu ada saat mereka menginginkan kamu” jawab Robby sedih .
Ketika ku terjatuh dalam kesedihan dia hanya menatap langit kosong dengan wajah hampa . Sosok seorang sahabat yang begitu memeliharaku dari kejamnya dunia luar hingga kini . Kadang aku heran kenapa kita begitu dekat, kenapa waktu begitu singkat, begitu cepat berlalu saat kebahagiaan datang. Tetapi ketika dukacita menghampiri, dunia terasa berhenti berputar. Berjalan lambat seperti kura-kura dalam tempurungnya . Sehentak pertanyaan aneh membangunkan aku dari lamunan .
“Vinsha, pernahkah kamu berpikir sejauh mana burung bisa terbang?” tanyanya
“hmmm.. aku tak pernah memikirkannya . Kenapa kamu bertanya seperti itu Rob?” untuk pertama kalinya dia menanyakan hal yang begitu aneh
“Aku ingin terbang seperti mereka . Pergi dari bumi ke langit”
Di dalam keanehan pertanyaannya dia tersenyum pedih seakan ada sembilu yang menggores luka di hatinya yang begitu tulus . Memandangnya sejenak aku mulai menyadari mungkin ada sesuatu yangsedang ia hadapi . Robby, sahabatku sekilas aku mlihat wajah kecil bermata sipit sedang menghampiriku di pertengahan bulan April . Kni, wajahnya yang bebas lepas dan tenang penuh kekonyolan tertutup awan kesedihan yang tak bisa aku tafsirkan . Maafkan aku Robby!! Kau selalu ada untukku dan selalu mengerti keluh kesahku namun aku hanya bias diam menyaksikanmu larut dalam kesedihanmu sendirian . Andai ada yang dapat aku lakukan untukmu kawan .
“Sudahlah… Memikirkanku hanya menambah beban untuk kamu Vin, Aku kan hnya bertanya . Jangan anggap serius dong” Seolah dapat membaca pikiranku dia bergegas berlari menyusuri padang setelah mencubit pipiku
“Awww… sakiit.. tapi kan gausah mencubitku” rengekku .
“Hari sudah gelap. Ayolah aku mengantuk . Ibumu akan khawatir Vinsha kalu kamu diam terus disini. Nanti kamu bisa tertiup angin malam karna badanmu yang kurus itu seperti gundukan kertas Koran.Hahaha..” Ucapnya
“Bagaimana kamu yakin orang tuaku khawatir? Aku sendiri tak percaya karna memang hanya selembaran kertas perusahaan yang tertumpuk di atas mejanya .Kenapa kamu begitu yakin Rob?” Aku resah dengan kata-katanya.
Sambil menghampiri aku yang duduk terdiam di bangku taman dia berkata dengan suara yang sangat lembut “karena kawanku yang cantik, bahkan akupun yang tidak terikat darah denganmu akan sangat mengkhawatirkanmu kalau malam hari seperti ini kau belum pulang”
“Benarkah?” tanyaku penuh harap
“Tentu, lagipula kau kan yang punya uang ongkos . Kalau kamu tidak pulang lalu aku bagaimana? Nah, sekarang masuklah kedalam tasku? Supaya kamu tidak tertiup angin.. hahaha” Dia berkata dengan tawa yang nyaring sekali
Aku tau, sangat mengerti sebesar apapun dia berusaha menutupinya dia tetap tak bisa menyembunyikan kesedihan itu dariku . Selama ini kau ada untukku . Mengukir kisah berdua bersama . Masalahku selesai dan aku kembali menjadi begitu ceria setelah Robby menemaniku,meyakinkanku, dan mengajakku untuk tertawa bahagia selama sisa penghabisan bulan Juni. Hingga saatnya di pertengahan Juli aku jatuh cinta pada seorang kakak kelasku . Namanya Rustandi . Dia yang waktu itu mengatakan matahari ketika aku berlari menyusuri korodor menuju ruang OSIS. Yah begitulah anak remaja . Pertemuan biasa yang menyatukan kita . Awalnya Robby tampak kurang nyaman dengannya, namun melihatku bahagia dia hanya berkata sambil tersenyum padaku “kalau ia terbaik untukmu . Ambillah..dan cintai dia”. Hampir tiap hari bersama berdua dan hampir meninggalkan sahabatku tersayang .
“Anda Rustandi? Saya sahabat baiknya Vinsha.. Dengarkan baik-baik!! Anda bisa memiliki Vinsha dan mengambil Vinsha dari saya tapi ingatlah!! Ketika kamu pergi meninggalkan dia dan menyakiti dia. Saya yang akan menjadi orang pertama yang akan anda hadapi..”
Ka Rustandi timpal menjawab “tentu saja aku akan menjaganya” jawabnya tenang
“Loh Robby?” aku heran melihat dia menghampiri ka Rustandi diam-diam
“Oh hai..dadah” jawabnya ceria
Hari-hariku yang terasa begitu sangat sepi sebagai seorang gadis kecil bernama Vinsha kini mnjadi semakin menjadi indah . Tapi lama kelamaan bunga yang mekar sebagai cinta pertama yang tumbuh di hatiku mulai berguguran . Dan aku berakhirnya tahun berakhir pula janji setia dari laki-laki yang kujadikan sebagai cinta pertama untukku dengan pengkhianatan dan kata tajam pedih “mendua” . Membuyarkan mimpiku yang begitu indah dan terajut dengan rapih untuk aku bangun. Namun ketika datang Robby di malam hari untuk menjemputku pulang karna seharian aku hanya menangis . Dia tampak sangat pucat. Oh Tuhan…Sudah sangat lama sekali aku tak bersama dengannya semenjak aku jatuh cinta dan kini aku begitu malu ketika dia masih menghampiri aku sebagai tanda kesetiaanku pada persahabatan yang 13 tahun kita bina bersama . Aku hanya bisa membalikkan badanku dan menangis semakin menjadi . Begitu menyesal seandainya ia tak ku lepas. Karna perasaan yang memaksaku untuk memecah suasana mendung di malam hari ini . Aku menangis tersedu-sedu seraya berkata .
“Maafkan aku Rob. memang aku yang salah meninggalkan persahabatan kita .. Aku benar-benar sangat menyesal Rob…Maafkan aku” Tangisku semakin menderas
“Tahukah kamu sejauh mana burung dapat terbang?” Tanyanya hampa
Pertanyaan itu keluar lagi setelah sekian lama aku tak mendengarnya . Dan raut muka itu kini kembali terpampang jelas di depan mataku .
“Aku ingin terbang seperti burung Vinsha” tanyanya tenang
“Eh?”
“Kau tahu elang? Aku ingin seperti elang Vinsha” ia mulai mengiggau aneh lagi. Namun kali ini raut wajahnya begitu serius bercampur sedih . Membuat aku menjadi sangat heran dan khawatir . Sebenarnya apa yang dia maksudkan.
“Maksudmu?” Aku mulai gelisah dan sangat heran
“Kau tahu, elang adalah burung yang dapat terbang sangat tinggi . Sangat jauh namun ia terbang sendirian , ia tak pernah takut terbang jauh dari bumi kelangit tanpa seorang teman, kekasih, sahabat, bahkan keluarga. Elang hanya terbang semakin tinggi dan tinggi dengan kesendiriannya”
Dia tersenyum dengan sangat aneh dan ganjil . Tatapan matanya kosong memandang kearah bintang di atas langit sana . Sebuah pesawat terbang melintas dia atas kepala kami berdua .
“Dan kemana kamu akan pergi Robby?” Tanyaku berusaha menghiburnya walau akupun masih merasakan sakit karena kehilangan orang yang sangat aku cintai
“Terbang dari bumi ke langit tentunya” jawabnya singkat namun penuh misteri
“Maukah kau mengajakku kesana?” Aku berusaha mengimbangi imajinasinya
“Itulah yang kutakutkan” Timpalnya
“Kenapa? Maksudmu apa Robby?” aku jadi semakin heran dan bingung
“Sejauh apapun aku terbang aku ingin kamu mempertahankan bumi ini untuk kamu pijak sampai sudah waktunya kamu bisa belajar untuk siap terbang menjadi elang Vinsha. Kamu mengertikan? Sekarang lupakanlah ia saat ini karna kelak ia pasti kembali padamu karna aku tau di suatu hari nanti dia juga sadar akan cintanya untukmu . Tunggulah Vinsha . Jangan takut, jangan sedih . Kan ada aku badutmu yang lucu?” berangsur-angsur ia mulai sadar dari lamunannya dan ia mulai tertawa dan menghiburku
“hahaha kamu ini.. sudahlah aku ingin tenang Rob. Terima kasih sekali ya Robby. Tapi aku bingung maksudmu apa sebenarnya berkhayal seperti itu?dan kenapa kamu ketakutan?” aku berusaha mentupi kesedihan dan rasa sakitku yang sebenarnya semakin menjadi-jadi.
“Suatu saat nanti kamu akan mengerti Vinsha” Jawabnya dengan senyum
Aku semakin terheran-heran . Tapi dia membangunkan aku dari kata-katanya dan menarikku untuk segera pulang kerumah karna hari sudah sangat larut malam . Untungnya kedua orang tuaku sedang pergi ke Australia . Setelah puas diam disana, dia mengantarkan aku pulang kerumah, menemaniku hingga masuk ke dalam pintu rumah dan mengatakan “Jangan kemana-mana!! Awas! Karna ada aku yang galak akan marah” candanya. Lalu ia berpamit dan meninggalkan aku .
                Semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak hanya menangisi luka yang ka Rustandi telah buat dalam hatiku . Tanpa sedikitpun memikirkan kaa-kata Robby yang aneh. 1 bulan aku berjalan dengan timpang karna kelelahan di sekolah . Akupun tak melihat Robby selama ini kemanapun aku pergi . Aku menjadi seakin merasa sendirian . Setiap, jam, menit hanya Rustandi yang bisa aku pikirkan . Hanya tangis dan kesedihan yang bisa aku tampakkkan dan aku mulai kehilangan diriku yang dulu . Belum lagi dengan hilangnya sahabat ku yang sangat aku sayangi. Berusaha berapa kai aku datangi rumahnya namun selalu tampak kosong .
“Robby, aku resah.. dimanakah kamu Robby?” tangisku
                Hari demi hari terus berlalu dengan melihat kebersamaan orang yang sampai saat ini masih ku harapkan dan masih sangat aku cintai telah bersama dengan yang lain. Mudah , sedangkan aku sangat kesakitan memandangnya seperti itu. Begitu pedih menyayat hati . Sebulan ini aku jauh lebih jarang pergi ke taman . Namun suatu ketika di akhir bulan agustus aku menemukan begitu banyak darah kering yang ada di bangku taman tempat aku biasa duduk . Dan disana aku hanya dapat termangu merasakan kesedihanku terhadap Rustandi dan keresahanku terhadap Robby . Lalu,seketika itu juga aku memutuskan untuk pergi . Pergi menjauh dari negeri ini dan melupakan semuanya .
                Awal Februari,dengan hujan aku tetapkan tanggal keberangkatanku menuju tempat yang aku pilih. Tempat orang tuaku bekerja . Koper-koper sudah siap, semua kenangan sudah mulai aku balut rapi dalam bungkusan-bungkusan kotak kenangan yang di tumpuk cantik di bawah lemari bergaya kerajaanku .
“Semuanya sudah siap” gumamku
                Dan akhirnya aku tinggalkan kediamanku bersama dengan sejuta kenangan indah meski singkat waktunya kebersamaanku dengan ka Rustandi . Aku lepaskan satu per satu kenangan ku yang begtu indah dan menyakitkan bersamanya . Meski tidak sepenuhnya aku lepaskan . Dan seiring perjalananku menuju bandara aku mulai merasakan kerinuan akan kota ini . Dan tentu saja, sahabatku Robby . Aku sangat kesal padanya karna hamper 2 bulan tak ada kabar, tapi dia sahabatku dan aku tahu dia tak pernah menyakitiku bahkan mengkhianatiku . Dia selalu ada disampingku kemanapun aku pergi meskipun raganya tak tampak . Aku tahu itu, Robby akan selalu menemaniku dimanapun dia berada .
                Semakin jauh aku melangkah , semakin dekat menuju bandara aku mulai semakin merasa sesak dan berat meninggalkan negeri ini. Terlebih meninggalkan orang yang amat aku cinta dan sahabatku tersayang yang kini entah berada dimana. Namun hidup harus terus berlanjut, aku tak bisa selamanya diam di tempat dan menunggu kesedihan menggerogoti kegidupanku . Berat hati ini untuk melepaskan semua kenangan dan kisah yang ada di sini . Cinta, kasih sayang, pengorbanan, semuanya . Tapi inilah hidup dan inilah pilihanku . Sebisa mungkin aku tersenyum dan bergegas menuju pesawat yang akan membawaku terbang untuk bebahagia dan menenangkan diri . Memendam egoisme untuk memiliki seorang Rustandi dan belajar mencintainya dari kejauhan tanpa harus memilikinya . Aku pergi .
                Sesampainya aku disana aku disambut dengan hal yang tak pernah aku duga . Sepucuk surat yang ditipkan pada ibuku yang memelukku dan menangis tersedu-sedu menatapku
“Ada apa ma?” Tanyaku sangat heran dan gelisah

Lalu dari situ pedihnya hatiku semakin teruji . Sepucuk surat berwarna biru langit bertuliskan namaku di depannya dengan coretan karya tulisa yang sangat aku kenal jelas . Karna kekhasannya membuatku yakin bahwa ini adalah sepucuk surat yang sahabatku, Robby tuliskan untuk. Dan aku jantungku semakin berdegup kencang . Khawatir, Rindu , Gelisah .
Dalam Surat itu tertulis kenyataan pahit yang sebenarnya :
Jakarta, 26 Februari

Pesan yang kutuliskan untukmu tak akan panjang namun yakinlah berarti banyak. Berjanjilah untuk tetap berbahagia meski seumur hidupmu hanya ini yang akan menemanimu dalam sisa bayangan ragaku. Saat kau membaca ini kua tahu Vinsha aku sudah melesat jauh ke langit. Menjadi elang yang aku impikan sejak dahulu kala. Menjadi berjuta pertanyaan yang pastinya mengganggu hidupmu. Elang . Aku telah menjadi elang yang terbang menyendiri Vinsha, tapi aku disini , di sarangku yang indah aku akan merasa bahagia kalau kau mengetahui . Bahwa aku sangat mencintai kamu dan menyayangi kamu . Kamu yang terpentinr untukku . Tapi aku sadar aku seorang pria pengidap hemophilia yang merenggut impianku untuk memilikimu . Dan aku harus bertahan menghadapi keadaan ini . Disanalah aku menemukan kamu yang membuat hidupkuterasa sangat berarti. Senyum dan ceriamu, ketegaranmu dalam menghadapi masalah. Itulah kamu Vinsha, Seberat apapun masalahnya kamu tak pernah larut dalam kesedihan dan begitu cepat bangkit. Itu sebabnya Vinsha aku ingin kau tetap berpijak di bumi untuk menemukan kehidupanmu yang baru. Kamu harus bertahan, berjuang, bahagia dan tersenyum . Jangan lagi merusak  mimpiku untuk menjadi seekor elang yang bebas terbang dan sendiri . Karena sesungguhnya aku sangat takut kau akan menangis bersedih di atas sarangku tempat aku merbahkan ragaku di dunia untuk selamanya . Vinsha, aku titipkan kasih sayangku,cinta,dan persahabatan kita sampai sudah waktunya kita berteu kembali, ya? berbahagialah karena aku akan sangat merasa bersalah di tempat ini. Berjanjilah utnuk tetap tersenyum mewarnai kehidupanmu, karna aku disini selalu menemanimu sampai kapanpun. Vinsha tugasku sudah selesai . Kini aku menjadi elang yang aku impikan . Selamanya jangan pernah melupakan aku, kenangan kita . Anak kecil berbondu biru yang aku temukan itu dulu sangat bersinar dengan penuh keceriaan dan ketegaran . Maka jadilah kau yang dulu . Mengertilah cinta tak selamanya harus bersama . Jadilah orang yang tegar sayang. Aku disini selalu memelukmu, dan menemanimu . Aku pamit untuk terbang dari bumi ke langit . Aku menunggumu disini . Menanti Vinsha dulu yang selalu tegar, kuat, dan ceria. Karena aku mencintaimu matahariku .
Vinsha, tetaplah bertahan . Selamat tinggal

Robby
Dadakku sesak, tubuhku lemas, suaraku parau dan aku tak sadarkan diri setlah itu . Merasakan kehilangan yang begitu mendalam dan aku teringat semua kenangannya . Tawa dan candanya, raut menenangkan wajahnya, kata-katanya, semua tentang kita , tentang persahabatan yang indah . Aku teringat dan berlari dalam jembatan mimpiku untuk meraih Robby namun ia telah hilang selamanya dalam kehidupanku . begitu sangat menyakitkan . Robby, inkah jawabanmu atas pertanyaan mengerikan itu .
“Robby, Kenapa kamu meninggalkan aku” Jeritku dalam mimpiku
“Kenapa kamu meninggalkan aku seperti ini .Aku sangat kesepian tanpa kamu Robby”
Seketika aku terbangun dan mataku penuh dengan bulir tangis dan air mata . Robby telah pergi menjadi elang yang ia impi-impikan . Sepedih-pedihnya hati ini kehilanganmu Robby aku akan selalu percaya . Kau memang akan menemaniku sampai kapanpun .Tunggulah aku Robby, aku berjanji akan menjadi aku yang dulu dan menghadapi dunia ini Robby. Kau benar, aku harus menjadi aku yang dulu. Ku disini berpijak di bumi ini dan melangkah hingga waktunya aku belajar untuk terbang sepertimu . Tetaplah menjadi elang yang terbang melesat di atas langit sana . Karna aku disini mempunyai hal terindah yang tak akan pernah orang lain miliki di dunia ini . Cinta dan persahabatan yang kekal abadi . Terselip bukti dari surga yang kau kirimkan kepadaku sebagai tanda cinta dan persahabatn ini . Berbahagialah sahabat…Di surga…

0 komentar:

Posting Komentar