Hari
masih panas dan terik matahari tambah menyengat . Lelaki kurus bermata cerah
itu masih tetap memandangku . Pandangan aneh seakan ia mengenal diriku lalu ia
tersenyum . setelah tersenyum dengan manis ia memberiku sebuah amlop kecil berwarna
biru dan ia berkata “matahariku akan terbit di ufuk tempatmu berdiri . Kita pernah
bertemu sekilas dan tumbuh seikat bunga untukku mengenalmu lebih dekat . Hai
kamu anak kelas 11 A 1 itu kan? Salam kenal” . Belum sempat kujawab
dia pergi ke tengah kerumunan pejalan kaki dan kemudian menghilang . Padahal
belum sempat kubalas bahkan dengan senyum . Anehnya ia “Aduh aku jadi telat”
aku bergegas berjalan menuju sekolah sepanjang perjalanan . Aku bertemu dengan
banyak wajah baru anak-anak kelas satu SMA yang baru mendaftar . Banyak yang mengatakan hai padaku meskipun
aku dengan sangat buru-buru membalasnya “Hai Vinsha selamat pagi” sahut Rooby
temanku “Hai sorry aku buru-buru nih” . Aku terus berlari menyusuri koridor
ruang kelas menuju ruang rapat . Ketika langsung kubuka pintu ruang . Aku
nyaris menabrak meja . Pipiku memerah karena penanggung jawab kegiatan MOPD
telah tiba . Sambil menarik kursi dan duduk sambil menenangkan diri . “Ehm,
saya memohon maaf atas keterlembatan saya untuk hadir dalam rapat ini ,
kebetulan tadi saya mendapat masalah kecil dan sedikit merepotkan . Nah saya
disini dan silahkan memulai rapat kegiatan kita.” “Huh” tambahku lelah .
“Adalah komitmen
anda sebagai seoarang ketua saudari
Vinsha, saya harap tidak akan lagi saya lihat keterlambatan lagi” penanggung
jawab bermuka tirus dan berwajah angkuh itu berkata dengan dinginnya dan aku
hanya bisa menangguk dan tersenyum dan berkata dalam hatiku “semoga saja” .
Namun sepanjang kegiatan rapat berlangsung mataku tak tertuju pada layar dimana
masing-masing koordinator seksi kegiatan menampilkan laporan mereka . Aku hanya tertuju
pada jendela luar dimana kulihat matahari terik menyengat para pejalan kaki di
jalan raya . Dan kupingku hanya mendengar kata-kata seoarang lelaki aneh yang
kujumpai . “Matahari akan terbit di ufuk tempatmu berdiri. Kita pernah tumbuh
sekilas dan tumbuh seikat bunga untukku mengenalmu lebih dekat” . katakata yang
indah dan sangat sulit ku mengerti . Tak pernah lepas sedikitpun aku
memikirkannya . Seorang yang aneh yang menarik perhatianku jauh lebih dari
yang kusadari pada akhirnya . Panasnya
hari membuat hatiku menjadi jauh lebih lelah “Aneh biasanya tidak panas seperti
kenapa ya dengan matahari? Apakah ia terlalu bersemangat menyinari bumi?”
seketika itu juga bayangan seorang aneh muncul dan menghilang , meskipun
sekilas tapi sangat jelas raut wajah dan senyumnya seakan meneduhkan hatiku ketika
mengingatnya “eh kenapa kau senyum-senyum sendiri? Wah kasmarankah?hahahahaha” sahut
Robby . Oh iya Robby adalah temanku, sebenarnya kami berteman sejak kami kecil
.Robby, ia
lebih dari seorang teman . Ia seorang sahabat terbaik untukku . Kulitnya putih
dan ia berambut hitam lebat dengan bentuk mata sipit dan muka bulat yang sangat menyenangkan .
Walaupun begitu dia sangat menyebalkan dan merepotkan . Meskipun lebih tua
dariku terkadang dia seperti anak kecil yang jatuh dari tangga dan harus di manjakan . Merepotkan sekali. Tapi
itu yang membuatku selalu tak bisa membencinya, sebesar apapun kesalahannya aku
selalu tau dia melakukan yang terbaik meskipun caranya salah . Ketika datang kedewasaannya saat aku sedang terpuruk
dalam kesedihan, dia pasti selalu bisa membuat aku tenang . Sebagai sahabat dialah pertama kali datang memelukku ketika ku menangis sendiri, dialah yang pertama mengangkatku
ketika aku sedang terpuruk dalam banyak masalah, dia sangat berharga untukku .
Tak ada yang bisa menyayangiku
lebih dari dia kecuali orang tuaku mungkin . “Loh masih melamunkah? Hah bodoh
yang benar saja” katanya dengan tampang malas dan tak bersalah . “apa kau
bilang?aku engga bodoh tau” teriakku kesal “ehm enak saja kalau bicara mukamu
tuh yang bodoh” tambahku . “justru itu aku jadi makin bodoh dekatmu . sudahlah
kau pasti haus kan?” dia menaruh minuman soda dingin di tanganku dan membuka
minumannya sendiri . Aku tersenyum melihatnya lalu tiba-tiba ia membuyarkan
pikiranku dengan berkata “heh mau minum tidak?jangan diliatin aja dong!!soda
itu tak akan
menghampirimu
kalau bukan kamu sendiri yang meminumnya”,
“ Ih cerewet banget sih dasar jelek. Huh”
celaku
“memang begitu”
“kok kamu nyebelin banget
sih?”
“abisnya kamu
ngelamun terus” dia bekata manja dan langsung merangkul bahuku
“sudah lama tak ke
tempat itu? Maukah?” Tanyanya sambil tersenyum menggoda
“waaaah .. tentu
saja” aku menanggap dengan sangat gembira .
Entah
apa yang ada pada dirinya yang membuatku begitu bahagia . Meskipun menyusahkan
tapi ialah yang selalu bersamaku kemanapun aku pergi .Kemanapun melangkah selalu ada langkah dan deap kaki
seorang sahabat sambil meyerukan “hai tunggu” yang selalu kurindukan . Robbylah
slalu mengemasi tiap haiku denn berbagai pelajaran yang berkesan dan indah .
Dia lebih berharga dari sebuir utiara kerang terindah dalam kehidupanku .
“karna ia begitu berarti bagiku” aku bergumam sendirian sambil melihat wajahnya
tersenyum manis dan lugu .
“eh kamu bicara apa barusan?”
tanyanya heran .
“ah tidak.... hehehe” aku
hanya salah tingkah dan malu sendiri untungnya sinar matahari menyengat,
setidaknya aku punya alibi untuk berbohong jika aku malu .
“huh kamu aneh”
celanya
“biarin.. hahahahaha” gelak tawaku keluar tiap
memandang mukanya yang konyol . Setiap hari tak pernah lepas dari genggaman
lengan sahabatku ini . Setiap detail berbagai masalah yang ada diantara
kehidupanku selalu ia perhatikan, membuatku sangat sulit sekali menyembunyikan
perasaanku yang sesungguhnya pada sosok
gelap dari sisiku yang penyendiri . mengubah berjuta ekspresi kehilangan menjadi raut sendu .
Selangkah ku pijak sedikit demi sedikit dengan perasaan pahit atas keadaan keluarga yang tak aku impikan di bandingkan kasih sayang
sahabatku . Jauh lebih dari keluargaku yang egois, berlebihan, dan tak pernah mengertiku .
Robby selalu tahu apa yang ia harus lakukan dan tidak ia lakukan padaku . Dialah yang satu-satuya menyadari
sifatku .Taman bernuansa eropa tak
mengalihkanku dari kesedihan karena sering ku telan pahit
ktidak mengertian orang tuaku aku di cap sebagai anak yang tak tau diuntung,
tak bisa di kasihani . Apa yang kulakukan di mata mereka selalu salah .
Teringat tentang semuanya saat kami berdua duduk di bangku taman dengan lampu
lentera zaman
dahulu
menemani aku hanya bisa tertunduk .
“kamu kenapa
kawan?” itu yang slalu ia lakukan saat ku bersedih
“kenapa semua yang aku lakukan salah ya?” aku hanya menoba
menahan air mata tapi tak mampu
“secepat itukah aku
menyimpulkan mereka . Aku benar-benar bingung harus bagaimana lagi .. begini salah... begitu salah ... apa yang haus
kulakukan” seketika aku hanya bisa mnerit melepas semuanya . Menjerit pada
rerumputan hijau yang mulai menguning dsn melambai di tiup angin dngan tenang .
“adakah yang bisa mendengar
jeritanku
saat aku menangis dalam hatiku Rob? Adakah dari keluargaku yang utuh mengerti
sosokku yang ssungguhnya . sebrapa jauh aku tertutup diantara mereka?”
“sesungguhnya Vinsha hanya
kaulah yang satu-satunya mengerti keadaan orangtuamu dan keluargamu. Jadi harusnya kamu ada saat mereka
menginginkan kamu” jawab Robby sedih .
Ketika ku terjatuh dalam kesedihan dia hanya
menatap langit kosong dengan wajah hampa . Sosok seorang sahabat yang begitu
memeliharaku dari kejamnya dunia luar hingga kini . Kadang aku heran kenapa
kita begitu dekat, kenapa waktu begitu singkat, begitu cepat berlalu saat
kebahagiaan datang. Tetapi ketika dukacita menghampiri, dunia terasa berhenti
berputar. Berjalan lambat seperti kura-kura dalam tempurungnya . Sehentak
pertanyaan aneh membangunkan aku dari lamunan .
“Vinsha, pernahkah kamu berpikir sejauh mana burung bisa terbang?”
tanyanya
“hmmm.. aku tak pernah memikirkannya . Kenapa kamu bertanya seperti itu
Rob?” untuk pertama kalinya dia menanyakan hal yang begitu aneh
“Aku ingin terbang seperti mereka . Pergi dari bumi ke langit”
Di dalam keanehan pertanyaannya dia tersenyum
pedih seakan ada sembilu yang menggores luka di hatinya yang begitu tulus .
Memandangnya sejenak aku mulai menyadari mungkin ada sesuatu yangsedang ia
hadapi . Robby, sahabatku sekilas aku mlihat wajah kecil bermata sipit sedang
menghampiriku di pertengahan bulan April . Kni, wajahnya yang bebas lepas dan
tenang penuh kekonyolan tertutup awan kesedihan yang tak bisa aku tafsirkan . Maafkan
aku Robby!! Kau selalu ada untukku dan selalu mengerti keluh kesahku namun aku
hanya bias diam menyaksikanmu larut dalam kesedihanmu sendirian . Andai ada yang
dapat aku lakukan untukmu kawan .
“Sudahlah… Memikirkanku hanya menambah beban untuk kamu Vin, Aku kan
hnya bertanya . Jangan anggap serius dong” Seolah dapat membaca pikiranku dia
bergegas berlari menyusuri padang setelah mencubit pipiku
“Awww… sakiit.. tapi kan gausah mencubitku” rengekku .
“Hari sudah gelap. Ayolah aku mengantuk . Ibumu akan khawatir Vinsha
kalu kamu diam terus disini. Nanti kamu bisa tertiup angin malam karna badanmu
yang kurus itu seperti gundukan kertas Koran.Hahaha..” Ucapnya
“Bagaimana kamu yakin orang tuaku khawatir? Aku sendiri tak percaya
karna memang hanya selembaran kertas perusahaan yang tertumpuk di atas mejanya
.Kenapa kamu begitu yakin Rob?” Aku resah dengan kata-katanya.
Sambil menghampiri aku yang duduk terdiam di bangku taman dia berkata
dengan suara yang sangat lembut “karena kawanku yang cantik, bahkan akupun yang
tidak terikat darah denganmu akan sangat mengkhawatirkanmu kalau malam hari
seperti ini kau belum pulang”
“Benarkah?” tanyaku penuh harap
“Tentu, lagipula kau kan yang punya uang ongkos . Kalau kamu tidak
pulang lalu aku bagaimana? Nah, sekarang masuklah kedalam tasku? Supaya kamu
tidak tertiup angin.. hahaha” Dia berkata dengan tawa yang nyaring sekali
Aku tau, sangat mengerti sebesar apapun dia
berusaha menutupinya dia tetap tak bisa menyembunyikan kesedihan itu dariku .
Selama ini kau ada untukku . Mengukir kisah berdua bersama . Masalahku selesai
dan aku kembali menjadi begitu ceria setelah Robby menemaniku,meyakinkanku, dan
mengajakku untuk tertawa bahagia selama sisa penghabisan bulan Juni. Hingga
saatnya di pertengahan Juli aku jatuh cinta pada seorang kakak kelasku .
Namanya Rustandi . Dia yang waktu itu mengatakan matahari ketika aku berlari
menyusuri korodor menuju ruang OSIS. Yah begitulah anak remaja . Pertemuan
biasa yang menyatukan kita . Awalnya Robby tampak kurang nyaman dengannya,
namun melihatku bahagia dia hanya berkata sambil tersenyum padaku “kalau ia
terbaik untukmu . Ambillah..dan cintai dia”. Hampir tiap hari bersama berdua
dan hampir meninggalkan sahabatku tersayang .
“Anda Rustandi? Saya sahabat baiknya Vinsha.. Dengarkan baik-baik!! Anda
bisa memiliki Vinsha dan mengambil Vinsha dari saya tapi ingatlah!! Ketika kamu
pergi meninggalkan dia dan menyakiti dia. Saya yang akan menjadi orang pertama
yang akan anda hadapi..”
Ka Rustandi timpal menjawab “tentu saja aku akan menjaganya” jawabnya
tenang
“Loh Robby?” aku heran melihat dia menghampiri ka Rustandi diam-diam
“Oh hai..dadah” jawabnya ceria
Hari-hariku yang terasa begitu sangat sepi
sebagai seorang gadis kecil bernama Vinsha kini mnjadi semakin menjadi indah .
Tapi lama kelamaan bunga yang mekar sebagai cinta pertama yang tumbuh di hatiku
mulai berguguran . Dan aku berakhirnya tahun berakhir pula janji setia dari
laki-laki yang kujadikan sebagai cinta pertama untukku dengan pengkhianatan dan
kata tajam pedih “mendua” . Membuyarkan mimpiku yang begitu indah dan terajut
dengan rapih untuk aku bangun. Namun ketika datang Robby di malam hari untuk
menjemputku pulang karna seharian aku hanya menangis . Dia tampak sangat pucat.
Oh Tuhan…Sudah sangat lama sekali aku tak bersama dengannya semenjak aku jatuh
cinta dan kini aku begitu malu ketika dia masih menghampiri aku sebagai tanda
kesetiaanku pada persahabatan yang 13 tahun kita bina bersama . Aku hanya bisa
membalikkan badanku dan menangis semakin menjadi . Begitu menyesal seandainya
ia tak ku lepas. Karna perasaan yang memaksaku untuk memecah suasana mendung di
malam hari ini . Aku menangis tersedu-sedu seraya berkata .
“Maafkan aku Rob. memang aku yang salah meninggalkan persahabatan kita
.. Aku benar-benar sangat menyesal Rob…Maafkan aku” Tangisku semakin menderas
“Tahukah kamu sejauh mana burung dapat terbang?” Tanyanya hampa
Pertanyaan itu keluar lagi setelah sekian lama aku tak mendengarnya .
Dan raut muka itu kini kembali terpampang jelas di depan mataku .
“Aku ingin terbang seperti burung Vinsha” tanyanya tenang
“Eh?”
“Kau tahu elang? Aku ingin seperti elang Vinsha” ia mulai mengiggau aneh
lagi. Namun kali ini raut wajahnya begitu serius bercampur sedih . Membuat aku
menjadi sangat heran dan khawatir . Sebenarnya apa yang dia maksudkan.
“Maksudmu?” Aku mulai gelisah dan sangat heran
“Kau tahu, elang adalah burung yang dapat terbang sangat tinggi . Sangat
jauh namun ia terbang sendirian , ia tak pernah takut terbang jauh dari bumi
kelangit tanpa seorang teman, kekasih, sahabat, bahkan keluarga. Elang hanya
terbang semakin tinggi dan tinggi dengan kesendiriannya”
Dia tersenyum dengan sangat aneh dan ganjil .
Tatapan matanya kosong memandang kearah bintang di atas langit sana . Sebuah
pesawat terbang melintas dia atas kepala kami berdua .
“Dan kemana kamu akan pergi Robby?” Tanyaku berusaha menghiburnya walau
akupun masih merasakan sakit karena kehilangan orang yang sangat aku cintai
“Terbang dari bumi ke langit tentunya” jawabnya singkat namun penuh
misteri
“Maukah kau mengajakku kesana?” Aku berusaha mengimbangi imajinasinya
“Itulah yang kutakutkan” Timpalnya
“Kenapa? Maksudmu apa Robby?” aku jadi semakin heran dan bingung
“Sejauh apapun aku terbang aku ingin kamu mempertahankan bumi ini untuk
kamu pijak sampai sudah waktunya kamu bisa belajar untuk siap terbang menjadi
elang Vinsha. Kamu mengertikan? Sekarang lupakanlah ia saat ini karna kelak ia
pasti kembali padamu karna aku tau di suatu hari nanti dia juga sadar akan
cintanya untukmu . Tunggulah Vinsha . Jangan takut, jangan sedih . Kan ada aku
badutmu yang lucu?” berangsur-angsur ia mulai sadar dari lamunannya dan ia
mulai tertawa dan menghiburku
“hahaha kamu ini.. sudahlah aku ingin tenang Rob. Terima kasih sekali ya
Robby. Tapi aku bingung maksudmu apa sebenarnya berkhayal seperti itu?dan
kenapa kamu ketakutan?” aku berusaha mentupi kesedihan dan rasa sakitku yang
sebenarnya semakin menjadi-jadi.
“Suatu saat nanti kamu akan mengerti Vinsha” Jawabnya dengan senyum
Aku semakin terheran-heran . Tapi dia
membangunkan aku dari kata-katanya dan menarikku untuk segera pulang kerumah
karna hari sudah sangat larut malam . Untungnya kedua orang tuaku sedang pergi
ke Australia . Setelah puas diam disana, dia mengantarkan aku pulang kerumah,
menemaniku hingga masuk ke dalam pintu rumah dan mengatakan “Jangan
kemana-mana!! Awas! Karna ada aku yang galak akan marah” candanya. Lalu ia
berpamit dan meninggalkan aku .
Semalaman aku tidak
bisa tidur dengan nyenyak hanya menangisi luka yang ka Rustandi telah buat
dalam hatiku . Tanpa sedikitpun memikirkan kaa-kata Robby yang aneh. 1 bulan
aku berjalan dengan timpang karna kelelahan di sekolah . Akupun tak melihat
Robby selama ini kemanapun aku pergi . Aku menjadi seakin merasa sendirian .
Setiap, jam, menit hanya Rustandi yang bisa aku pikirkan . Hanya tangis dan
kesedihan yang bisa aku tampakkkan dan aku mulai kehilangan diriku yang dulu .
Belum lagi dengan hilangnya sahabat ku yang sangat aku sayangi. Berusaha berapa
kai aku datangi rumahnya namun selalu tampak kosong .
“Robby, aku resah.. dimanakah kamu Robby?” tangisku
Hari demi hari
terus berlalu dengan melihat kebersamaan orang yang sampai saat ini masih ku
harapkan dan masih sangat aku cintai telah bersama dengan yang lain. Mudah ,
sedangkan aku sangat kesakitan memandangnya seperti itu. Begitu pedih menyayat
hati . Sebulan ini aku jauh lebih jarang pergi ke taman . Namun suatu ketika di
akhir bulan agustus aku menemukan begitu banyak darah kering yang ada di bangku
taman tempat aku biasa duduk . Dan disana aku hanya dapat termangu merasakan
kesedihanku terhadap Rustandi dan keresahanku terhadap Robby . Lalu,seketika
itu juga aku memutuskan untuk pergi . Pergi menjauh dari negeri ini dan
melupakan semuanya .
Awal Februari,dengan
hujan aku tetapkan tanggal keberangkatanku menuju tempat yang aku pilih. Tempat
orang tuaku bekerja . Koper-koper sudah siap, semua kenangan sudah mulai aku
balut rapi dalam bungkusan-bungkusan kotak kenangan yang di tumpuk cantik di
bawah lemari bergaya kerajaanku .
“Semuanya sudah siap” gumamku
Dan akhirnya aku
tinggalkan kediamanku bersama dengan sejuta kenangan indah meski singkat
waktunya kebersamaanku dengan ka Rustandi . Aku lepaskan satu per satu kenangan
ku yang begtu indah dan menyakitkan bersamanya . Meski tidak sepenuhnya aku
lepaskan . Dan seiring perjalananku menuju bandara aku mulai merasakan kerinuan
akan kota ini . Dan tentu saja, sahabatku Robby . Aku sangat kesal padanya
karna hamper 2 bulan tak ada kabar, tapi dia sahabatku dan aku tahu dia tak
pernah menyakitiku bahkan mengkhianatiku . Dia selalu ada disampingku kemanapun
aku pergi meskipun raganya tak tampak . Aku tahu itu, Robby akan selalu
menemaniku dimanapun dia berada .
Semakin jauh aku
melangkah , semakin dekat menuju bandara aku mulai semakin merasa sesak dan
berat meninggalkan negeri ini. Terlebih meninggalkan orang yang amat aku cinta
dan sahabatku tersayang yang kini entah berada dimana. Namun hidup harus terus
berlanjut, aku tak bisa selamanya diam di tempat dan menunggu kesedihan
menggerogoti kegidupanku . Berat hati ini untuk melepaskan semua kenangan dan
kisah yang ada di sini . Cinta, kasih sayang, pengorbanan, semuanya . Tapi
inilah hidup dan inilah pilihanku . Sebisa mungkin aku tersenyum dan bergegas
menuju pesawat yang akan membawaku terbang untuk bebahagia dan menenangkan diri
. Memendam egoisme untuk memiliki seorang Rustandi dan belajar mencintainya
dari kejauhan tanpa harus memilikinya . Aku pergi .
Sesampainya aku
disana aku disambut dengan hal yang tak pernah aku duga . Sepucuk surat yang
ditipkan pada ibuku yang memelukku dan menangis tersedu-sedu menatapku
“Ada apa ma?” Tanyaku sangat heran dan gelisah
Lalu dari situ pedihnya hatiku semakin teruji . Sepucuk surat berwarna
biru langit bertuliskan namaku di depannya dengan coretan karya tulisa yang
sangat aku kenal jelas . Karna kekhasannya membuatku yakin bahwa ini adalah
sepucuk surat yang sahabatku, Robby tuliskan untuk. Dan aku jantungku semakin
berdegup kencang . Khawatir, Rindu , Gelisah .
Dalam Surat itu tertulis kenyataan pahit yang sebenarnya :
Jakarta,
26 Februari
Pesan yang kutuliskan untukmu tak akan panjang namun
yakinlah berarti banyak. Berjanjilah untuk tetap berbahagia meski seumur
hidupmu hanya ini yang akan menemanimu dalam sisa bayangan ragaku. Saat kau
membaca ini kua tahu Vinsha aku sudah melesat jauh ke langit. Menjadi elang
yang aku impikan sejak dahulu kala. Menjadi berjuta pertanyaan yang pastinya
mengganggu hidupmu. Elang . Aku telah menjadi elang yang terbang menyendiri
Vinsha, tapi aku disini , di sarangku yang indah aku akan merasa bahagia kalau
kau mengetahui . Bahwa aku sangat mencintai kamu dan menyayangi kamu . Kamu
yang terpentinr untukku . Tapi aku sadar aku seorang pria pengidap hemophilia
yang merenggut impianku untuk memilikimu . Dan aku harus bertahan menghadapi
keadaan ini . Disanalah aku menemukan kamu yang membuat hidupkuterasa sangat
berarti. Senyum dan ceriamu, ketegaranmu dalam menghadapi masalah. Itulah kamu
Vinsha, Seberat apapun masalahnya kamu tak pernah larut dalam kesedihan dan
begitu cepat bangkit. Itu sebabnya Vinsha aku ingin kau tetap berpijak di bumi
untuk menemukan kehidupanmu yang baru. Kamu harus bertahan, berjuang, bahagia
dan tersenyum . Jangan lagi merusak mimpiku untuk menjadi seekor elang yang bebas
terbang dan sendiri . Karena sesungguhnya aku sangat takut kau akan menangis
bersedih di atas sarangku tempat aku merbahkan ragaku di dunia untuk selamanya .
Vinsha, aku titipkan kasih sayangku,cinta,dan persahabatan kita sampai sudah
waktunya kita berteu kembali, ya? berbahagialah karena aku akan sangat merasa
bersalah di tempat ini. Berjanjilah utnuk tetap tersenyum mewarnai kehidupanmu,
karna aku disini selalu menemanimu sampai kapanpun. Vinsha tugasku sudah
selesai . Kini aku menjadi elang yang aku impikan . Selamanya jangan pernah
melupakan aku, kenangan kita . Anak kecil berbondu biru yang aku temukan itu
dulu sangat bersinar dengan penuh keceriaan dan ketegaran . Maka jadilah kau
yang dulu . Mengertilah cinta tak selamanya harus bersama . Jadilah orang yang
tegar sayang. Aku disini selalu memelukmu, dan menemanimu . Aku pamit untuk
terbang dari bumi ke langit . Aku menunggumu disini . Menanti Vinsha dulu yang
selalu tegar, kuat, dan ceria. Karena aku mencintaimu matahariku .
Vinsha,
tetaplah bertahan . Selamat tinggal
Robby
Dadakku sesak, tubuhku lemas, suaraku parau dan aku tak sadarkan diri
setlah itu . Merasakan kehilangan yang begitu mendalam dan aku teringat semua
kenangannya . Tawa dan candanya, raut menenangkan wajahnya, kata-katanya, semua
tentang kita , tentang persahabatan yang indah . Aku teringat dan berlari dalam
jembatan mimpiku untuk meraih Robby namun ia telah hilang selamanya dalam
kehidupanku . begitu sangat menyakitkan . Robby, inkah jawabanmu atas
pertanyaan mengerikan itu .
“Robby, Kenapa kamu meninggalkan aku” Jeritku dalam mimpiku
“Kenapa kamu meninggalkan aku seperti ini .Aku sangat kesepian tanpa
kamu Robby”
Seketika aku terbangun dan mataku penuh dengan
bulir tangis dan air mata . Robby telah pergi menjadi elang yang ia
impi-impikan . Sepedih-pedihnya hati ini kehilanganmu Robby aku akan selalu
percaya . Kau memang akan menemaniku sampai kapanpun .Tunggulah aku Robby, aku
berjanji akan menjadi aku yang dulu dan menghadapi dunia ini Robby. Kau benar,
aku harus menjadi aku yang dulu. Ku disini berpijak di bumi ini dan melangkah
hingga waktunya aku belajar untuk terbang sepertimu . Tetaplah menjadi elang
yang terbang melesat di atas langit sana . Karna aku disini mempunyai hal
terindah yang tak akan pernah orang lain miliki di dunia ini . Cinta dan
persahabatan yang kekal abadi . Terselip bukti dari surga yang kau kirimkan kepadaku
sebagai tanda cinta dan persahabatn ini . Berbahagialah sahabat…Di surga…






0 komentar:
Posting Komentar